Jumat, 31 Agustus 2012
Membawa Sepeda dari Belanda ke Indonesia
Senin, 05 Maret 2012
Penghargaan Tertinggi
Alasannya karena saya mendapatkan kejutan istimewa...
dan kejutan istimewa itu adalah bahwa saya menjadi salah satu nominator Tutor favorit bagi mahasiswa angkatan 2011:)
Yang menjadi pemenang adalah dr. Santoso Budiharjo dengan selisih 1 suara. Beliau adalah dosen senior yang jauh di atas saya, dan saya menghormati beliau atas dedikasinya kepada kemajuan pendidikan kedokteran dan nasib mahasiswa.
Pengalaman ini menjadi penghargaan tertinggi bagi 6 tahun masa kerja saya. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada diterima dan dicintai mahasiswa. Terimakasih...
Selasa, 19 Juli 2011
Dunia seni tari, karawitan dan saya -dua-

Pada saat SMP, saya memilih ekstra kurikuler tari dan karawitan. Berbagai tarian diajarkan oleh Bapak Sudarminto dan semuanya adalah kreasi baru. Mungkin karena terlalu pe-de dengan kemampuan saya sendiri, pada saat ujian tari tahun pertama nilai saya jelek. Ternyata saya berlebihan dalam memperagakan dasar-dasar tari yang diujikan hohoho...pelajaran lagi OJO DUMEH! Di tahun ke-dua saya mulai mawas diri dan ternyata membuahkan hasil. Pak Guru mulai melirik saya dan menyadari bakat saya (cieh..cieh...sombong lagi niii). Dan terpilihlah saya untuk mewakili sekolah dalam perlombaan tari dalam rangka hari pendidikan nasional.
Walaupun tari bukan hal baru bagi saya, namun tari gaya Yogyakarta menjadi sangat baru untuk saya. Dalam lomba tari ini saya harus membawakan beksan Retno Asri. Beruntung penciptanya adalah salah satu guru saya di paguyuban Wayang Bocah Kusuma Indria, Mbak Inul. Maka saya langsung nyuwun les privat ke rumah beliau di Kemitbumen. Saya berusaha berlatih semampu saya untuk menyesuaikan dengan dasar gerak tari gaya Yogyakarta. Saat latihan saya sering memperhatikan Mbak Asteria Retno Swastiastuti .ak.a Mbak Ias, adik Mbak Inul, yang juga latihan menari beksan yang sama untuk lomba tingkat SMA. Kemampuan Mbak Iyaz sudah tidak diragukan lagi menurut saya mengingat kedua orang tua dan kedua kakaknya mengajar di ISI Yogyakarta (cmiiw). Dua tahun mewakili sekolah saya dalam perlombaan tari, dua kali pula saya menduduki juara 2. Juara 1 selalu diduduki oleh seorang penari cilik dari SMP 8 yang saya lupa namanya. Gerakannya memang begitu gemulai, kalau ibu saya mengungkapkan, tariannya nggandhul yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh penari tingkat advance.
Pada akhirnya justru beksan Retno Asri inilah yang sangat sering saya bawakan sampai kuliah bila saya diminta untuk menari dalam acara-acara tertentu, jauh dari komunitas penari yang saya cintai, bahkan sampai ke negara Belanda ketika saya ngekor ayah saya dalam suatu acara course pendidikan kedokteran. Tarian ini yang pada akhirnya menjadi satu-satunya tarian yang tersisa dan bertahan di ingatan saya. Saya sering menarikannya sendiri di rumah ketika sedang rindu penari dan menari.
picture is taken from http://tjokrosuharto.com/catalog/product_info.php/cPath/27_50/products_id/175
Dunia seni tari, karawitan dan saya -satu-

Dunia seni tari dan karawitan sudah diperkenalkan kepada saya, mungkin, sejak saya lahir ceprot ke dunia ini. Bagaimana tidak? Pasalnya kedua orang tua saya sangat mencintai seni tari dan karawitan jawa, khususnya gaya Surakarta. Papa Harsono sudah apalan jadi Kresna *baca:Kresno*, sampai-sampai ada pasien beliau yang baru pertama bertemu tapi sudah seperti kenal lama. Ternyata pasien itu nge-fans dengan Prabu Kresno-nya Papa Harsono yang sering tayang di TVRI Yogyakarta tahun 80-an. Mama Dhany sangat mencintai peran Srikandi yang cukup sering didapuknya, atau peran-peran rasaksa wanita atau wanita wujud buta *baca:buto* seperti Durga. "Aku pakai kiprah yaaa" begitu selalu pintanya tiap berperan jadi buta.
Berbagai pementasan wayang orang telah mereka ikuti baik on air maupun off air. Saya beberapa kali tidur di studio TVRI Yogyakarta demi menemani dan menonton orang tua saya berperan serta dalam Wayang Orang. Walaupun kedua orang tua bukan seniman profesional, namun kecintaan mereka serta penguasaan pengetahuan mereka terhadap dunia ini merupakan penghargaan yang tak ternilai (menurut saya).
Sejak usia balita, badan saya sudah otomatis bergerak kemayu bila mendengar alunan gending. Menari-nari sesuka hati, memakai sampur mini, payung kertas, menggendong boneka dan menjinjing kendi berlagak menari bondan. Senang bukan kepalang, maka ibu saya mencari guru tari privat untuk saya. Terpilihlah Mbak Kinting Handjati yang muda, cantik dan imut-imut. Ibu saya sebetulnya bisa melatih sendiri karena beliau sebenarnya juga pelatih tari, tapi karena menghindari "rame" jadi lebih baik saya diserahkan ke pelatih lain. Rame adalah saat ibu saya melatih sambil nggetak-nggetak dan saya ngeyel atau malah nangis *capek dehhh*.
Saya berlatih tari seminggu sekali, dan entah tiba-tiba saja saya berkesempatan untuk pentas di panggung 17 Agustusan di RT saya. Masih ingat betul kebahagiaan dipaesi dan memakai kostum tari Kijang saat itu serta rasa dag-dig-dug sebelum unjuk diri di panggung. Satu hal yang diajarkan oleh Ibu saya sebelum unjuk diri di muka umum adalan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kuat. Sampai saat ini pun masih saya lakukan, bukan hanya saat akan tampil di muka umum tapi juga saat harus mengontrol emosi.
Pentas-pentas selanjutnya seakan datang mengalir tanpa diundang. Mungkin pada saat itu Mbak Kinting-lah yang mempromosikan saya he..he..Pentas di sekaten, resepsi pernikahan, juga FKY. Saya masih ingat 3 tarian andalan yang selalu saya bawakan: Tari Kijang, Tari Golek Sri Rejeki dan Tari Bambangan Cakil, sebagai cakil adalah Mas Wisnu yang juga menjadi teman menari saya yang pertama. Mulai kelas 3 SD saya dipercaya untuk pentas tari di setiap acara perpisahan dan mewakili sekolah untuk lomba tari. Walaupun belum berkesempatan untuk menang, namun saya toh senang-senang saja. Dan dari pengalaman ini, ibu saya mengajarkan bahwa masih banyak sekali anak-anak yang bisa menari jauh lebih baik dari saya. Maka saya harus lebih giat berlatih dan tidak ngeyel:)
picture is taken from http://nusantarabatikshop.blogspot.com/2011/04/selendang-sampur-selendang-tari.html
Kamis, 28 April 2011
Visa Schengen: tempat tujuan utama Belanda
Berikut ini merupakan syarat-syarat yang diperlukan untuk pengajuan permohonan visa Kerajaan Belanda dan negara Schengen.
Sumber informasi: Cor van der Kruk, Wakil Konsuler Kedutaan Besar Belanda di Yogyakarta
UMUM:
Dari pihak pemohon:
1. Paspor yang masih akan berlaku sekurang-kurangnya 3 bulan setelah masa kunjungan sah ke wilayah Schengen berakhir
2. Pasfoto baru berwarna (3½ cm x 4½ cm dengan 70-80% wajah, background putih / light grey)
3. Print-out booking (reservation) tiket pesawat yang telah dikonfirmasi pulang-pergi Indonesia - Belanda (maksimal 90 hari) dan keterangan tempat tinggal selama di Belanda
4. Kartu Keluarga (C1) pemohon + fotokopi KTP
5. Bukti asuransi perjalanan dengan pertangguan minimal € 30.000,-
6. Bukti kemampuan finansial pemohon (gaji, penghasilan)
7. Bukti ikatan sosial dan ekonomi pemohon dengan Indonesia (bukti bahwa ada alasan untuk kembali ke Indonesia), misalnya:
- surat nikah,
- surat keterangan kerja,
- yang memiliki status siswa: bukti terdaftar sebagai (maha)siswa + izin dari sekolah / universitas,
- buku bank/- statement milik pribadi tiga bulan terakhir, deposito bank, saham, sertifikat tanah, - mobil, - sepeda motor dan segalanya.
Semua dokumen asli (seperti akte kelahiran/Kartu Keluarga dsb) harus diserahkan bersama fotokopi, sehingga dokumen asli bisa dikembalikan kepada Anda
Tambahan untuk KUNJUNGAN PRIBADI
· (jika menginap di rumah orang) undangan dimana tanda tangan pihak yang mengundang dilegalisasi oleh pemerintah kotamadya (gemeente) + fotokopi halaman pertama paspor pengundang
· (jika menginap di hotel) booking hotel yang telah dikonfirmasi dan/atau bukti lunas pembayaran hotel untuk seluruh periode
· (jika menggunakan sponsor di Negeri Belanda) pernyataan jaminan dari sponsor (formulir dapat diperoleh di Balai Kota), fotokopi halaman pertama paspor sponsor dan bukti keuangan mencukupi dari sponsor (kopi slip gaji dan/atau statement bank yang mencantumkan gaji). Pernyataan jaminan hanya berlaku dalam 3 bulan sejak dikeluarkan dan harus dilegalisasi oleh pemerintah kota madya (gemeente) tempat tinggal pihak yang mengundang. Sponsor minimal harus mempunyai penghasilan bruto per bulan € 1425,- tanpa uang liburan: € 1539, - dengan uang liburan). N.B. Jika yang mengundang bukan warganegara Belanda kopi Surat Izin Tinggal juga harus dilampirkan.
Tambahan untuk KUNJUNGAN BISNIS
· Undangan dari persusahan di Negeri Belanda
· Bukti adanya kontak bisnis
· Booking hotel yang telah dikonfirmasi dan/atau tanda lunas pembayaran hotel untuk seluruh periode kunjungan
· Profil perusahan (perusahan pihak pemohon)
· Statement bank 3 bulan terakhir dari perusahaan pemohon.
Tambahan untuk PENGOBATAN
· Surat dari dokter yang menangani di Indonesia
· Surat dari dokter/rumah sakit yang menangani di Negeri Belanda
· Tanda bukti asuransi kesehatan atau tanda bukti pembayaran pengobatan.
Anak di bawah umur
· Jika seorang anak di bawah umur mengadakan perjalanan sendiri atau dengan salah satu orang tuanya, maka perlu ada izin dari kedua orang tua c.q. salah satu orang tua (Bapak atau Ibu). Tanda tangan orang tua harus dilegalisir (legalisasi dapat dilakukan di kantor notaris. Tanda tangan di atas meterai Rp. 6.000 tidak diterima.)--artinya bila pergi dengan kedua orang tuanya maka tidak perlu surat keterangan
Kewajiban menghadap
· Pada prinsipnya setiap pemohon wajib menghadap secara perorangan. Namun jika paspor Anda menunjukkan bahwa Anda dalam 2 tahun terakhir sudah beberapa kali mendapat visa dari Kedutaan Besar ini maka kewajiban menghadap perorangan bagi Anda gugur.
Visa untuk beberapa kali perjalanan
· Orang yang telah beberapa kali mengunjungi Negeri Belanda dan yang dapat dipastikan masih akan perlu berkunjung ke Negeri Belanda beberapa kali setahun oleh Kedutaan Besar di Jakarta dapat diberikan visa untuk satu tahun atau lebih yang berlaku untuk beberapa kali perjalanan (multiple entry visa). Pada dasarnya masa berlaku maksimum adalah dua tahun.
Jika formulir permohonan tidak diisi dengan lengkap atau dokumen yang diminta tidak lengkap permohonan visa tidak akan ditangani.
Proses visa minimum 10 hari kerja (dengan kiriman pulang pergi kurang lebih > 2 minggu).
Biaya Visa : Biaya ini dibayar dalam Rupiah dengan kurs Euro € 60,- (kurs Euro akan ditentukan oleh pihak Kedubes).
Selain dari biaya tsb, Rp. 337.000 handling fee, Rp. 39.500 asuransi mail/pos per orang/ grup dan Rp. 65.000 ongkos kirim p/p per orang/kelompok.
Kamis, 17 September 2009
Maura mau punya adik???
Rasanya masih tidak percaya kalau sekarang saya sudah hamil lagi. Usia kehamilan ini kira-kira sudah berjalan 8 minggu sedangkan Maura saat ini berusia 15 bulan dan masih menyusu. Dihitung-hitung saat adiknya lahir, Maura akan berusia 23 bulan!
Kamis, 12 Maret 2009
Ada Mbak Esti di Rumah
Ada Mbak Esti di Rumah
Siapakah Mbak Esti?
Mbak Esti adalah problem solving kami. Kehadirannya seperti dikirim dari Langit untuk menghilangkan 50% dari beban pikiranku, dan suamiku.
Jaman sekarang, sulitnya mencari asisten rumah tangga a.k.a pembantu sudah menjadi tren dalam gosip ibu-ibu. Masalahnya bukan hanya sulit mencari, tapi kalaupun ada kebanyakan mintanya macam-macam. Ada yang minta nominal gaji didepan, tanpa masa pecobaan; ada yang pakai syarat harus pakai mesin cuci, gagang pel, jam tidur sampai hari libur...ngek...
Ya...ya...memang jaman sudah sangat maju, jangan harap kita bisa mendapatkan asisten rumah tangga yang penuh dedikasi dan pengabdian seperti Mbok Nah, Mbak Yem, Yu Sam, Yu Nem, Bu Nur and whoever seperti 20 tahun yang lalu. Kita belum sampai ngomong, jreng..jreng..semua sudah disiapkan.
Kembali ke: Ada Mbak Esti di Rumah
Sejak asisten rumah tanggaku (ku, bukan kami; begitu kata suamiku) yang pertama resign dari pekerjaannya, tentu saja kami (aku dan suamiku) kembali berbagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tetapi, kali ini kami KEWALAHAN...KEWALAHAN!!!
Alasannya...karena ada bidadari mungil, cantik dan tak berdaya di rumah. Perawatannya diakui oleh dunia menguras cukup banyak waktu dan perhatianku. Well, akhirnya harus ada yang kalah, dan kekalahan itu menjadi sebuah masalah, dan sebuah masalah itu bisa menjadi satu per seribu penyebab ke-bete-an-ku dan suamiku terutama pas lagi sama-sama lelah atau sensitif.
Perlu diberitahukan bahwa yang kalah disini adalah kebersihan dan kerapian rumah, rumah dan isinya. Sebagai pasangan yang sama-sama bekerja, kami mencoba untuk membagi waktu dan membangun sistem agar rumah tetap terasa nyaman. Salah satunya adalah mengisi hari libur dengan membereskan rumah, wallaaaahhhhh...kalau begitu kapan beromantismenya??
So, kami akhirnya mencari dan mengumumkan kebutuhan kami terhadap asisten rumah tangga ini. Ada tawaran, ga jadi...ga jadi...dan ga jadi lagi...teruslah begitu sampai capek rasanya.
Tiba-tiba...asisten rumah tangga kakakku mendatangiku sambil mengajak seorang perempuan muda yang ternyata sedang butuh pekerjaan, dialah Mbak Esti.
Dari hasil wawancara, dia butuh pekerjaan untuk menabung guna membiayai anaknya masuk sekolah, TK di tahun ajaran baru nanti.
Setelah sepakat baik dari pekerjaan, jadwal kerja sampai gaji plus dispensasi-dispensasi akhirnya Mbak Esti resmi menjadi asisten rumah tanggaku. Alhamdulillah...
YES! Aku puas dengan pekerjaannya...tidak tergesa-gesa dan rapi...rumah kami selalu bersih...suamiku jadi sumringah setiap hari dan Bidadari mungil kami tetap mendapatkan porsi perhatian yang lebih. Mbak Esti, meski masih muda tapi attitude nya cukup baik sehingga aku nyaman memperkerjakannya.
Sekarang, aku tidak lagi mengernyitkan dahi kalau ingat rumah kami,
Ada Mbak Esti di Rumah!
Kamis, 12 Februari 2009
Aku, Diriku, Hatiku Hari Ini
Hari ini aku terlambat masuk kantor karena dua hal, yaitu membuat pesanan jus dan harus mampir ke kantor Papa untuk meminjam beberapa buku berkaitan dengan proposal penelitian yang sedang aku kerjakan. Sampai di kantor sudah ada pekerjaan baru menantiku, Kepala Bagian memintaku untuk menggarap pembuatan video pelatihan tutorial, rencananya video lama akan direvisi dan akan ada satu video bertema baru yang akan dibuat. Siap!
Hari ini aku lagi-lagi sendirian di ruangan, yang terbagi menjadi 4 cubicle. Bekerja disini terasa sangat sepi karena semua orang bekerja dengan kesibukan masing-masing, jauh berbeda saat aku masih di kantor yang lama. Jadi aku harus bisa menikmati keadaan ini, toh aku senang bekerja disini. Sekitar jam 11, salah satu supporting staf menawarkan untuk memasang mesin printer di mejaku, karena aku harus keluar masuk ruangan untuk mencetak beberapa pekerjaan. Aku terima saja dengan suka cita, toh, tidak ada yang dirugikan karena mesin itu memang tidak dipakai oleh siapapun. Setelah melewati beberapa keanehan teknis akhirnya printer itu patuh juga untuk bekerja. Terimakasih...
Hari ini masih banyak yang kupikirkan seperti hari-hari belakangan, terutama sejak aku dinyatakan diterima program master di suatu universitas di Maastricht, Belanda. Aku sangat ingin pergi kesana bersama suami dan anakku, walaupun untuk itu kami harus mengurangi waktu tidur dan santai. Tapi masalah tidak hanya uang, tapi persiapan untuk pergi ternyata sangat banyak, mulai dari paspor sampai jenis koper yang akan dibawa. Dan selain usaha kami, semua kelancaran proses ini hanya bergantung pada Sang Khalik. Hati ini serasa meletup-letup, otak pun telah berputar sedemikian kencang, hanya kesabaran dan tawakal yang dapat menyeimbangkan kesehatan rohaniku, rohani kami.
Dan hari ini...aku telah mencuri sedikit waktu untuk memenuhi kebutuhanku menulis, eh.. mengetik di blog ini...
Sabtu, 06 Desember 2008
Kepada Bapak Yang Tersenyum
seperti tak pernah tersentuh siapapun.
Hmm...
Dia benar-benar sudah pergi...
meninggalkan ruang yang selalu wangi, wangi yang tak dia sukai...
meninggalkan mebel dengan warna khas miliknya...
meninggalkan sebuah perjalanan yang belum tuntas.
Dia pergi begitu saja tanpa pamit, haha..apa perlu?
tanpa pesan, pergi begitu saja...
meninggalkan kehampaan dalam hatiku, entah hati mereka...
aku belum sempat menyampaikan seikat kalimat untuknya.
Pak...
terimakasih ya sudah memberi kesempatan pada kami, padaku...
terimakasih juga sudah membimbing dan memimpin kami...
terimakasih...terimakasih...terimakasih...
Aku tidak akan lupa menulis dua kata namamu...
dalam tesis-ku...disertasi-ku...kelak...
dalam naskah pidato guru besar-ku, mungkin nanti...
dan akan ku kirim dalam sebuah bungkusan kado yang indah.
Pak...
engkau pergi, aku pun juga...
aku akan meninggalkan kantor ini, kursi ini, meja ini, semuanya...
aku akan memulai perjalanan panjangku di jalan yang t'lah kupilih...
do'akan aku ya Pak!
Senin, 17 November 2008
7 Minggu Menuju Akhir Kontrak

Aku membiarkan memoriku mengadakan flashback perjalanan hidupku sebagai seorang sekretaris eksekutif tim koordinator blok fakultas kedokteran universitas gadjah mada, apa saja manfaat yang kuperoleh dan hikmah yang dapat kuambil, setelah insyaallah aku memberikan kemampuan dan pekerjaan terbaikku. Aku tidak akan mencoba mengingat apalagi mengungkit hal-hal yang tidak menyenangkan, untuk menjaga energi positif dan mood tetap happy.
Jadi inilah hasilnya:
- Bos yang sangat inspiring, honestly, it's true...
- Kantor yang eksklusif dengan design ruang yang paling apik dan fasilitas yang mencukupi (kecuali kamar mandi dalam he..he..)
- Teman-teman sekantor yang kompak: 4 dokter satu angkatan kuliah tapi tidak pernah kenal dekat, disatukan oleh pekerjaan.
- Mbak Widya, Mbak Rara, Mbak Citra, Mbak Prima: para pendahulu kami, kakak kelas kami yang dulu terasa begitu jauh, ternyata........
- Mbak Yani sang sekretaris yang pekerja keras.
- Semakin mengenal internet dan program-program komputer yang belum pernah tersentuh.
- Terlibat dalam workshop-workshop yang sering diadakan di hotel, artinya kamar hotel, makanan hotel dan semua fasilitas hotel gratiiss...
- Prioritas dalam training-training pendidikan.
- Dilibatkan dalam setiap proses perencanaan sampai dengan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kegiatan akademik. Dari sini banyak sekali ilmu yang didapatkan yang tidak diajari selama sekolah dan kuliah.
- Kenal dan otomatis menjadi dekat dengan para senior yang dulunya adalah para dosenku, artinya semakin mudah mencari rekomendasi untuk melanjutkan langkah karir.
- Prioritas beasiswa master dan PhD di luar negeri.
- Dekat dengan dunia dosen dan dunia mahasiswa, berada ditengahnya jadi mengerti sebab-akibat peristiwa yang terjadi di dalam dunia pendidikan, sebuah modal penting untuk menjadi pendidik.
- Mengenal lebih dekat dengan para karyawan, dari petugas kebersihan, penjaga kantin, satpam sampai petugas administratif semua golongan. Adanya penggolongan pegawai edukatif (dosen) dan non edukatif membuatku belajar banyak tentang kehidupan; baik-buruk, hitam-putih, sebab-akibat.
Terimakasih dan penghormatanku kepada orangtuaku yang telah memberikan kepercayaan untukku dalam proses mencari jati diri, kepada suamiku yang selalu mendukung dan memberi doa dalam setiap langkah yang kupilih, kepada Bos yang telah memberi kesempatan untuk duduk di posisiku saat ini. Awal yang baik insyaallah akan berakhir dengan kebaikan pula, amin.
Senin, 10 November 2008
Sepenggal Cerita Saat Puting Beliung
"hmm...ngeri sekali sih...semoga saja tidak ada puting beliung seperti tahun lalu..."
Saya sempat membatin seperti itu sampai akhirnya saya tertidur menyusul Maura yang angler kekenyangan dalam pelukan saya.
Jam 15.30 saya terbangun, hujan sudah turun entah sejak kapan. Ups hampir lupa ada janji dengan Mama untuk fitting pakaian di sebuah butik batik eksklusif. Akan ada acara peragaan busana yang memamerkan produk dari butik batik tersebut, dan karena kebetulan bersamaan dengan acara syawalan IDI/IIDI Yogyakarta, maka saya diminta untuk berpartisipasi menjadi peragawati dadakan.
Sampai di sana, ternyata sepi, tidak ada seorangpun yang hadir sesuai perjanjian untuk fitting. Nyonya cantik pemilik butik tersebut menjelaskan bahwa acara fitting ditunda karena baru saja terjadi puting beliung di kawasan UGM, dan kawasan tersebut porak poranda.
"haaa??? masyaallah...kok kejadian bener to?"
Saya masih saja susah untuk percaya. Rasanya ingin langsung melihat ke TKP tapi saya urungkan karena pastilah jalanan disana macet oleh pohon-pohon yang tumbang. Lama saya tercenung, saya percaya, sangat percaya semua hal yang terjadi adalah skenario Sang Khalik, termasuk terjadinya bencana tersebut. Tapi, apakah kepulangan awal saya dari kantor juga termasuk dalam skenario-Nya? Apa kira-kira yang terjadi apabila saya melakukan aktivitas kantor seperti biasa, pulang mengantar ASI perah Maura pada jam 12, kemudian kembali ke kantor sampai jam 16. Karena kebetulan hari naas itu adalah hari jumat, jadi jadwal pulangnya adalah jam 15, tepat ketika puting beliung menyapa.
Saya menghubungi salah seorang rekan satu kantor menanyakan keadaannya. Dia baik-baik saja, hanya masih bingung atas kejadian yang baru saja terjadi. Keadaan benar-benar kacau balau, semua orang panik dan ketakutan. Pohon-pohon besar banyak bertumbangan, nyaris menimpa orang, "untung hanya" menimpa kendaraan yang sebagian besar mobil. Kampus tempat saya bekerja juga lumayan menderita kerugian. Taman nyaman tempat favorit mahasiswa seakan menjadi gundul karena pohon peneduhnya tumbang, gedung kuliah lantai 4 dan 5 tak bisa dipakai karena mengalami kebocoran besar, dua ring basket besar yang penyangganya terbuat dari besi roboh dan beberapa kerusakan lain yang tidak begitu besar.
Area yang terhantam memang benar-benar kawasan UGM dan klimaksnya adalah Grha Sabha Pramana. Miris sekali melihat kekacauan yang terjadi lewat televisi. Lapak-lapak kaki lima hancur, berapa saja orang yang kehilangan pekerjaannya dan harus mulai dari awal lagi. Ada pertanyaan menggelitik dari suamiku atas kejadian ini.
"Dari seluruh universitas yang ada di Yogyakarta, kenapa UGM yang "terpilih" puting beliung ya?"
Yang pasti semua hal yang terjadi merupakan tanda kebesaran Allah swt bagi orang-orang yang berpikir. Dari kebetulan kecil bahwa aku "diselamatkan" dari kejadian itu sampai dengan mengapa UGM yang terpilih menjadi pelampiasan puting beliung, sungguh banyak hikmah yang dapat kita ambil. Apa hikmah itu dan bagaimana menyikapi terjadinya bencana tersebut tentunya kembali kepada individu masing-masing. Benar dan salah, baik dan buruk, itulah isi kehidupan, dan Allah swt selalu ada untuk memberi kabar gembira dan peringatan bagi yang Dia cintai.
Kamis, 25 September 2008
Jadi Dokter
"Mm mau jadi dokter kaya Papa"
Percakapan ini sering terjadi dalam kehidupan Vivit kecil. Jadi dokter, itulah jawaban yang selalu dilontarkan Vivit kecil setiap ditanya tentang cita-citanya, baik oleh Ibunya, Neneknya, PAkdhe, Budhe, Om, Tante, Tetangga, bahkan orang yang kebetulan duduk bersebelahan di angkutan umum.
Tahun 1997, cita-cita itu masih bulat, membara dan membuatnya tak sabar melewati masa 3 tahun di SMU. Namun entah kapan dan bagaimana cita-cita itu mulai meredup. Barangkali karena pergaulannya di SMU yang semakin luas, dia semakin menyadari banyaknya profesi menarik selain dokter di dunia ini. Kenyataan bahwa semua harapan berbagai pihak adalah menuntutnya menjadi seorang dokter seperti yang selama belasan tahun dia katakan membuatnya galau.
"Siapa lagi yang bisa meneruskan profesi Papa selain kamu? Kami kakak-kakak mu tak ada yang jadi dokter Dek. Buku-buku Papa yang buanyak itu buat siapa nantinya diwariskan kalu bukan ke kamu?"
"Mama dulu nggak kesampaian jadi dokter, walau sekarang akhirnya tetep dipanggil Bu Dokter karena dapet suami dokter. Jadi alhamdulillah kalau kamu bisa jadi dokter, Nduk"
"Waah, anak lanang kabeh dadi ahli ekonomi...berarti sing dadi dokter anak wedok ki."
Hueh...Vivit merasa sepertinya semua orang sudah membuat skenario bagi masa depannya. Pikirnya, "Mmmm...jadi dokter ya? Emangnya aku mampu ya? Sedangkan setelah menjalani masa sekolah ini ternyata aku tidak begitu berminat pada hal-hal yang berbau eksak, kecuali fisika. Mati-matian bisa masuk kelas IPA demi sebuah cita-cita yang telah surut sinarnya..menyedihkan.."
Her father, which is a lecturer, said
"Kedokteran itu ilmunya ditengah, tidak sangat eksak dan tidak sangat sosial. Tidak dibutuhkan orang pintar untuk jadi mahasiswa kedokteran, kami mencari orang yang rajin dan telaten"
Gubrak!
Rajin dan telaten dalam hal apa ya? Rajin dan telaten belajar? Hahaha... Kalau rajin dan telaten masak, merangkai bunga, bisnis sih ayo aja Bos!...
Kalau masalah rajin belajar...ohohoho...bukankah itu yang menjadi masalah selama sekolah. Belajar...belajar...belajar...tiap saat di suruh belajar tapi tidak pernah diajari cara belajar yang baik. Apakah perlu? tentu perlu, bahkan sangat perlu agar anak mengerti filosofi dari belajar, tahu manfaat dari apa yang mereka pelajari sehingga akan menimbulkan semangat dalam belajar.
Akhirnya dengan tingkat stress lumayan tinggi, luluslah Vivit dengan nilai ebtanas murni (NEM) yang JEBLOK! Gegerlah dunia...sang Ibu hampir tak bisa menahan emosinya, untunglah sang ayah masih bisa mengendalikan situasi dan bersikap bijak. Vivit direngkuh, dibesarkan hatinya untuk tidak menyerah karena perjuangan belum berakhir. NEM tidak akan menentukan lulus tidaknya ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN), jadi insyaallah dengan niat yang sungguh-sungguh dan ikhtiar belajar maka semua akan dimudahkan olehNya.
Terharu dan malu, terbakarlah semangat Vivit untuk bangkit dan memperbaiki semuanya. Les intensif, belajar di rumah ditambah hidup prihatin selama satu bulan, akhirnya Vivit lulus UMPTN dan menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Umum Universitas Gadjah Mada. Alhamdulillah...bahagialah keluarga besarnya. Doa dan harapan mereka dikabulkan olehNya. Vivit juga bahagia karena keinginannya membahagiakan orang tua dijabahi oleh Sang Maha Pengasih.
Tak peduli apapun kata orang bahwa dia lulus UMPTN karena bapaknya adalah dosen FK UGM, Vivit sangat meyakini, apapun itu, apabila Alloh swt menghendaki sesuatu terjadi maka tak ada yang mampu mencegahnya, begitupun sebaliknya, apabila Dia tidak menghendaki suatu kejadian maka tak ada yang mampu memaksanya. Yang penting adalah mensyukuri nikmat ini dengan bertanggung jawab pada langkah yang telah dia pilih. Bismillah...enam tahun lagi aku akan menjadi dokter!